Kamis, 26 Februari 2015

FTV (nyata)

Cerita happy ending yang prosesnya ga masuk akal  hanya ada di FTV, katanya..

Kita luput pada satu hal bahwa dalam hidup ini juga ada produser dan sutradaranya langsung yaitu Allah dan takdir. Cerita mana yang dapat mengalahkan keseruan hidupmu sendiri? sebuah ketidakjelasan yang kamu rasakan akan dijawab dengan ketidakpastian karena sesungguhnya kamu hanya dapat berperan sebagai dirimu sendiri tanpa kamu tau persis bagaimana akhir ceritanya. Ketidakpastian yang kamu rasakan itu akan terbuka oleh iman, bahwa segalanya memang sudah ada yang mengaturnya. Dan sebuah ketidakjelasan akan membuat diri menuntut berusaha mencari sebuah jawaban, itulah cara kerja sederhana kemampuan sebuah jiwa setiap insan manusia.

Dia, sosok yang biasa saja
Dia, sosok yang sederhana
Dia, sosok yang keberadaannya terbentang puluhribuan km
Dia, sosok yang hatinya sejuk
Dia, sosok yang positif
Dia, sosok yang belum lama saya kenal
Dan dia...

Hmmm
Saya lahir dan keturunan asli sebuah kota yang memiliki julukan metropolitan. Ya, kota ini hebat. Sebagai ibu kota negara berhasil membuat mata pikiran penduduknya berpusat padanya.
Dulu katenye, kalo elu pengen sukses pan tibang ke sini aje. Ape aje ade.
Lah pan karang jadinye padet ni kote.
Hahaha intermezonye kelamaan ye.
Intinya , setiap orang yang sudah di kota ini apa lagi sudah lama tinggal mayoritas dari mereka pasti berpandangan ... (isi sendiri)
Apa lagi anak mudanya, up to date. Bisa kebayangkan gimana? Dari pola hidupnya, seleranya dll. Itu pada umumnya, jauh dari itu masih ada beberapa dari warga jakarta atau anak kota yang berpandangan, mungkin seperti saya.
Sudah merasa cukup menikmati kota ini, kecukupan itu wajarnya tidak boleh mencapai berlebihan. Saya butuh sesuatu yang alami, hening dan kebahagiaan yang sesungguhnya.
Bersamanya, saya akan membantu menyalakan pelita pendidikan disebuah daerah yang jauh dari gemerlap cahaya kota Jakarta.
Saya sangat bersemangat melangkah maju ke episode cerita hidup saya sendiri. Bagaimana denganmu?

Rabu, 25 Februari 2015

Keakuan

Menjadi anak kesayangan keduaorangtua tidak selalu selamanya membahagiakan..

Entah ini disebut sebagai apa. Ungkapan hati terdalam atau apapun itu, whatever ! Jiwaku terpasung ragaku dikurung. Dalam palung hati terdalam, aku mempunyai dua cita -cita yaitu sukses menjadi diriku seutuhnya aku dan menjadi anak yang berbakti untuk keduaorangtuaku. Hal itu yang menyebabkan aku terkatung katung selama 21 tahun ini. Kenapa?

Aku menulis ini atau karena aku sedang kesal? Jadi terkesan aku merasa kurang bersyukur dengan yang selama ini sudah ku nikmati.

Memang,.
Selama ini mereka mencukupi segala keinginan dan kebutuhanku.
Tapi semua keinginan dan kebutuhan yang mereka maksudkan keinginan dan kebutuhan mereka ! Bukan seutuhnya untuk jiwaku.
Aku butuh bicara, aku berhak memilih..
Kekhawatiran mereka kini hampir membunuhku. Aku telah hampir menunaikan cita - citaku menjadi anak yang berbakti, berikan aku sedetik momentum untuk cita - citaku yang satunya lagi. Please.
Percayakan aku dengan keakuan ku ini tetap dapat menjadi anakmu.
Aku ingin hidup

Bermimpi

Tidur jika tertidur bangun jika terbangun..

Itu bukanlahlah sebuah mantra tetapi sebuah konsep yang tertanam dalam jiwaku. Hmm, hasilnya memuaskan ! Aku menjadi seorang yang tidak bisa tidur jika berencana tidur dan aku sulit bangun jika memang aku belum terbangun sepenuhnya. Bisa dibayangkan bagaimana pola tidurku. Sering kali aku tertidur tanpa sadar yang sebelumnya aku tidak sedikitpun merasakan tanda ngantuk.
Semua itu bermula karena aku tidak suka mimpi atau bermimpi. Bagiku mempercayai mimpi sama artinya dengan mempercayai kebohongan. Yakini saja apa yang sedang kamu lihat dan tengah kamu jalani. Itu cukup. Tidak perlu punya ekspektasi yang berlebihan karena segala sesuatu yang berlebihan akan membuatmu jatuh lebih sakit, meskipuun perlahan. Saat kita membiarkan diri terjebak dalam mimpi yang obsesif bahkan ilusif, maka kita akan berkubang dalam kesedihan saat berada dekat pada kejatuhan.

Namun saat ini aku bertemu dengan sebuah jawaban bernamakan 'proses'. Ternyata pradugaku soal mimpi salah. Justru karena itu kita menjadi lebih kuat. Kuat untuk menata hidup dan menapakinya, kuat untuk membangun komitmen dalam kesetiaan dan memvisualisasikannya pada ikatan pernikahan dan berkeluarga hingga nantinya kuat untuk bertahan. Maka, mulailah aku belajar bermimpi tapi bersamamu tak perlu lagi bermimpi.

ini

Ini adalah tempat dimana aku dapat bernafas tanpa sesak, menghirup alaminya okesigen tanpa unsur lainnya. Ya, aku hanya perlu membutuhkannya. Menulis bagiku adalah seperti bernafas. Sedetik sepuluh detik mungkin aku masih mampu bertahan. Dapat dibayangkan jika aku semenit tidak menulis? Dan bagiku menulis, bukanlah persoalan untuk menghasilkan tulisan yang indah bagai pujangga sastra. Menulis adalah sejarah yang hidup kembali dalam setiap nafas saat dibacanya lagi. Esok nanti atau lusa.
Pernahkah kamu tertawa saat melihat foto SDmu?
Begitu juga dalam tulisan. Ia punya gambarannya sendiri di sudut pikir yang membacanya.
Mungkin saja dulu kamu menulisnya saat sedang tersedu sedu, saat lendir yang keluar dari hidungmu berlomba dengan air mata menuju pangkal wajahmu. Dan sekarang kamu terlihat begitu kesal, tertawa atau merasa lega telah melaluinya.

Disinilah,
Ditempat ini aku hidup dengan keakuan ku.
Ini adalah perjalananku menuju titik.
Ini hanya ada tentang aku.
Aku sendiri.

Selasa, 24 Februari 2015

Manusia

Di dunia orang tua itu wakil Tuhan, mereka ikut ambil bagian menuliskan takdir anaknya..

Terkadang semua berjalan sesuai momentumnya entah itu sesuai perencanaannya atau bahkan mengalir begitu saja. Hingga akhirnya apa yang saat ini baik morfologi atau karakter diri seorang anak terbentuk adalah hasil dari buah cinta orangtuanya. Tentu saja banyak dari setiap orangtua mendambakan anaknya bersama sesorang yang memang menurutnya layak. Karena sesungguhnya orangtua hanyalah tempat Allah menitipkan ciptaannya yang sempurna yang bernamakan manusia. Yang dimana manusia itu juga berhak menentukan pilihannya untuk kehidupannya kedepan. Sebuah pilihan membagi yang terbaik dengan yang baik - membagi yang baik dengan yang kurang baik. Namun setiap pilihan selalu mempunyai kadar baik buruknya yang menjadi dasar pertimbangan keputusan. Semoga kamu dapat menanggung dan menyelesaikan pilihanmu dengan bahagia :)