Rabu, 25 Februari 2015

Bermimpi

Tidur jika tertidur bangun jika terbangun..

Itu bukanlahlah sebuah mantra tetapi sebuah konsep yang tertanam dalam jiwaku. Hmm, hasilnya memuaskan ! Aku menjadi seorang yang tidak bisa tidur jika berencana tidur dan aku sulit bangun jika memang aku belum terbangun sepenuhnya. Bisa dibayangkan bagaimana pola tidurku. Sering kali aku tertidur tanpa sadar yang sebelumnya aku tidak sedikitpun merasakan tanda ngantuk.
Semua itu bermula karena aku tidak suka mimpi atau bermimpi. Bagiku mempercayai mimpi sama artinya dengan mempercayai kebohongan. Yakini saja apa yang sedang kamu lihat dan tengah kamu jalani. Itu cukup. Tidak perlu punya ekspektasi yang berlebihan karena segala sesuatu yang berlebihan akan membuatmu jatuh lebih sakit, meskipuun perlahan. Saat kita membiarkan diri terjebak dalam mimpi yang obsesif bahkan ilusif, maka kita akan berkubang dalam kesedihan saat berada dekat pada kejatuhan.

Namun saat ini aku bertemu dengan sebuah jawaban bernamakan 'proses'. Ternyata pradugaku soal mimpi salah. Justru karena itu kita menjadi lebih kuat. Kuat untuk menata hidup dan menapakinya, kuat untuk membangun komitmen dalam kesetiaan dan memvisualisasikannya pada ikatan pernikahan dan berkeluarga hingga nantinya kuat untuk bertahan. Maka, mulailah aku belajar bermimpi tapi bersamamu tak perlu lagi bermimpi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar