Jumat, 27 Maret 2015

Ice cream

Bagian tersulit dalam hidup adalah menjalani pilihanmu hingga akhir..

Terkadang ada rasa tidak percaya juga pada "kebetulan". Kebetulan yang entah disengaja ataupun memang sudah ini jalannya. Menikmati kebetulan seperti ini seperti melahap es krim tanpa jeda untuk menyuapnya, es krim yang harusnya dinikmati proses suap demi suap, tapi proses ini terabaikan begitu saja, aku bahkan hampir lupa filosofi es krim yang lembut, menenangkan dan seolah memberi pemanis untuk kehidupan yang getir, sempat merasa bingung antara penerimaan dan pertanyaan yang seolah terus berputar dikepala. Aku berdiskusi dengan diri sendiri mencoba mendapati keyakinan apa yang akan aku dapati.

Entah apa yang harus aku katakan lagi prihal ini. Harusnya aku berbahagia. Harusnya niat ini sebulat bola. Ya, seharusnya. Wajarnya semua keharusan itu ada.

Kamis, 19 Maret 2015

Mimpi putri

Aku yang mengejar mimpiku kemudian mimpi itu meminta untuk melangkah saja tidak perlu berlari. Hingga akhirnya ku tinggalkan mimpi.

Teman mimpi tanpa jemu. Awan.
Masih bolehkah aku menyebut nama karakter itu? Setelah Udara kini menggantikan posisinya. Yang harusnya setiap saat ku hirup. Melegakan. Menenangkan. Dekat.

Ya, bagaimanapun yang aku butuh adalah udara. Bukan awan ataupun angin. Angin pergi berlalu tanpa secercah hembusan. Sedangkan awan masih saja berada di tempatnya. Di atas. Melindungi. Memantau.

Dalam pertengahan perjalanan izinkan aku menuangkan segalanya.

Gaun putih indah membalut dirimu hingga kamu bagai sang putri dalam sehari, beriringan dengan lantunan lagu from this moment dan setiap orang mendoakanmu. Perayaan pernikahan hanyalah sebuah perayaan. Kebahagiaan berbalut kemewahan. Setiap seorang putri mendambakan itu.

Dengan mengucapkan bismillah, ya. Aku hanya ingin hidup sehidup hidupnya bersama udara yang kini kumiliki. Bagaimanapun nanti keadaannya itu persoalan nanti. Harapan dan mimpi hanya pembunuh bagiku. Ia menyiksa. Lakukan saja apa yang kini dapat dilakukan. Semaksimal mungkin.

Sesengguhnya, kamu hanyalah kamu. Kenikmatan kemewahan yang kamu rasakan kemarin hanya sebatas karena kamu sebagai anak. Ini jadinya, saat status anak lepas dr dirimu. Apa yg kamu miliki? Berapa harta yg kamu punya? Nol. Siapkah kamu melepaskan segala kekotaanmu untuk menjadi sederhana. Desa. Atau bahkkan sengsara?

Sabtu, 07 Maret 2015

Keakuanku

Singkat. Sederhana.

Perkataanmu mencerminkan jati dirimu. Jaga lisanmu karena lebih baik pecah di perut daripada pecah di mulut. Jangan sampai angin membawa berita dan tembok mendengarnya.

Aku tidak pandai berkisah, tidak lihay bersembunyi dan tidak ingin berdusta. Nilailah sepuasmu, karena kamu bukan hakin atau jaksa atau bahkan juri. Kamu hanyalah kamu. Penikmat cerita. Jika ingin kamu ketahui dalamnya air jangan hanya kamu lihat lihat dari tepian. Terjunlah kedalamnya. Rasakan setiap arusnya yang mengrengkuh dirimu.

Kenali kekuatan waktu, dalami pengetahuan hati, selami kekalnya doa.

Minggu, 01 Maret 2015

Sandiwara

Pintar sekali dirimu membolak balikan peranmu. Sayangnya ini hidup! Bukan dalam sebuah kisah cerita sinema. Kamu bak layaknya seorang aktor terbaik !

Manis manis ucapanmu hanya ada dipangkal penilaian orang yang baru mengenalmu sekejap. Buah cintamu dan wanita yang dulu kamu ucapkan janji suci kepadanya kini dengan sesukamu disulam - dirobek. Dirobek - disulam hatinya. Begitu seterusnya. Untuk apa kepandaian sandiwaramu itu? Apa tujuanmu!

Apakah hatimu sendiri telah hilang termakan harimau? Hingga mereka kamu jadikan tempat melampiaskan segala kekecewaanmu. Atau seolah kamu merasa dendam / dengki pada mereka? Seakan mereka tidak kamu perbolehkan untuk tersenyum sedikitpun. Peranmu antagonis di dalam protagonis di luar. Apa salah mereka?

Dulu kamu yang begitu menginginkan keberadaan mereka disisimu. Kini kamu campakan mereka. Tidak sekalian saja kamu tinggalkan mereka. Itu akan membuat mereka jauh lebih bahagia !
Mereka mencoba lari jauh darimu, kamu kejar lalu kamu pasung mereka dalam sandiwaramu. Lalu apa peran mereka?
Mereka manusia yang hidup bukan hanya hidup dalam sandiwaramu. Sadarlah !