Aku yang mengejar mimpiku kemudian mimpi itu meminta untuk melangkah saja tidak perlu berlari. Hingga akhirnya ku tinggalkan mimpi.
Teman mimpi tanpa jemu. Awan.
Masih bolehkah aku menyebut nama karakter itu? Setelah Udara kini menggantikan posisinya. Yang harusnya setiap saat ku hirup. Melegakan. Menenangkan. Dekat.
Ya, bagaimanapun yang aku butuh adalah udara. Bukan awan ataupun angin. Angin pergi berlalu tanpa secercah hembusan. Sedangkan awan masih saja berada di tempatnya. Di atas. Melindungi. Memantau.
Dalam pertengahan perjalanan izinkan aku menuangkan segalanya.
Gaun putih indah membalut dirimu hingga kamu bagai sang putri dalam sehari, beriringan dengan lantunan lagu from this moment dan setiap orang mendoakanmu. Perayaan pernikahan hanyalah sebuah perayaan. Kebahagiaan berbalut kemewahan. Setiap seorang putri mendambakan itu.
Dengan mengucapkan bismillah, ya. Aku hanya ingin hidup sehidup hidupnya bersama udara yang kini kumiliki. Bagaimanapun nanti keadaannya itu persoalan nanti. Harapan dan mimpi hanya pembunuh bagiku. Ia menyiksa. Lakukan saja apa yang kini dapat dilakukan. Semaksimal mungkin.
Sesengguhnya, kamu hanyalah kamu. Kenikmatan kemewahan yang kamu rasakan kemarin hanya sebatas karena kamu sebagai anak. Ini jadinya, saat status anak lepas dr dirimu. Apa yg kamu miliki? Berapa harta yg kamu punya? Nol. Siapkah kamu melepaskan segala kekotaanmu untuk menjadi sederhana. Desa. Atau bahkkan sengsara?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar