Minggu, 26 Juli 2015

Awan tumbang

Dulu saya memandang Awan begitu tinggi dengan kekokohan prinsip pribadinya, namun dalam hitungan sesaat kini nampak bagai pohon jati yang tumbang dengan sendirinya.
Dalam hal jodoh atau memilih calon pasangan hidup, baiknya kita sebagai insan manusia hanya patut berikhtiar tanpa perlu menyakiti seseorang atau bahkan mematok kriteria dengan sederet impian yang begitu sempurna.

Menikah dengan lelaki baik memang tidak lantas membuat pernikahan saya sempurna. Tetapi jauh lebih beruntung daripada menikahi laki laki yang tidak baik karakter, kelakuan dan ibadahnya. Kesuksesan dapat diusahakan dengan kerja keras, tetapi kebaikan tidak dapat dibuat buat. Uang bisa dicari. Penampilan bisa diperbaiki. Tetapi akhlak itu mutlak.
Walaupun menikah dengan laki laki baik baik, tentu saja tetap ada masalah dalam pernikahan. Tapi setidaknya masalah yang saya hadapi bukan permasalahan moral.
Penting untuk kamu mengetahui apa yang tidak ingin kamu alami dalam pernikahanmu, dan buka mata lebar lebar apakah ada sifat pasanganmu mengindikasi ke arah sana. Jangan buang waktumu.
Allah berkenan kepada pernikahan yang baik. Pernikahan yang baik hanya bisa terjadi jika KEDUA PIHAK baik dan mau terus memperbaiki diri untuk kebaikan pernikahannya.

Saya sangat merasa beruntung dijodohkan Allah dengannya.. :)

Senin, 25 Mei 2015

GGD

sebelum panjang lebar kemana mana, aku ingin mengucapkan selamat tanggal 23 di bulan yang pertama, sayangku suamiku kakaku!

Tidak terasa sudah 30 hari kami bersama sama menjalani hidup sebagai suami istri. Hehe selama sebulan setelah hari pernikahan, kami berdua memang menjalani hubungan "pacaran setelah menikah". Jadi jelas kan.. gimana rasanya. Hmm pokonya maha luarbiasa binggo, Allah memberikan rasa cinta kasih kepada kami di waktu yang tepat dan insyaAllah kami berharap semoga mencapai samara selalu.

Namun, di hari ke 31 dan 32 pernikahan.. suamiku harus menjalankan tugasnya. Harus menyalakan cahaya kecerdasan di garis depan Indonesia. Mentri Pendidikan dan Kebudayaan, Bapak Anies Baswedan memberi nama Guru Garis Depan. Acara pelepasan Guru Garis Depan dilaksanakan pada tanggal 24 - 25 Mei 2015. Yang di hadiri Presiden Indonesia, Bapak Jokowi dan di saksikan oleh Mentri serta pihak yang terkait di Istana.

Rasa kebanggaanku sangat besar pada suamiku dan kepada mereka guru guru tulus yang siap menjadi pelita kecerdasan di garis depan Indonesia. Akupun ikut merasa sangat bahagia berada dekat di mimpiku. Dari satu kata SM3T, mimpiku hidupku. Ya, aku mendapatkan keduanya langsung. Selain rasa bangga dan bahagia, aku juga haru karena aku tidak dapat langsung pergi menuju daerah tujuan suamiku. Aku harus menunggu kurang lebih setengah tahun di rumah.

Akhirnya..
Kami punya cerita hidup yg baru. Warna yang baru dalam hari pernikahan kami. LDR !

Doakan semoga kami berdua dapat terus mensyukuri ragam warna hidup, hingga terlukis SAMARA. Aammin.

Ku tunggu kamu di Jakartaku (lagi).

Selasa, 28 April 2015

234

BARAKALLAH LAKA WA BARAKA 'ALAIKA WA JAMA'A BAINAKUMA FIL KHAIR (semoga Allah memberi berkah kepadamu & keberkahan atas pernikahan kamu, & mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan).

23 April 2015 adalah salah satu hari yang paling bersejarah dalam kehidupan saya. Hari dimana saya mengikat janji pernikahan dengan orang yang selama ini tidak saya sangka-sangka akan menjadi jodoh saya. Seseorang yang selama ini saya anggap seperti kakak saya sendiri, ternyata menjadi pasangan hidup saya yang akan saya jaga sampai akhir hayat, Insya Allah. Dan seseorang tersebut bernama Agil Wicaksono. Tulisan ini akan saya berikan kepada suami saya, yang dimana telah memilih saya untuk menjadi pendamping hidupnya.

Tepat 5 hari (terhitung dari tanggal saya menulis tulisan ini) resmi sudah saya menjadi istri dari kaagil. Ya, saya masih memanggilnya dengan sebutan "ka" karena saya rasa tidak perlu diubah segala sesuatu yang telah membuat kami nyaman. Segala sesuatunya terasa seperti mimpi; Sampai saat ini saya masih tidak menyangka bahwa semua proses yang kami alami berjalan begitu alami dan cepat tanpa adanya halangan yang memberatkan. Alhamdulillah, semua dilancarkan. Pada hari itu, saya merasa menjadi perempuan yang sangat bahagia dan juga sangat bersyukur atas dipertemukannya sekaligus diikatnya tali kasih sayang kami berdua dalam sebuah kehidupan baru.

"Saya terima nikahnya Devi Chairunnisa binti Kisyanto dengan mas kawinnya tersebut tunai"

Ketika kalimat tersebut diucapkan dengan lantang dan jelas, saya hanya bisa menundukkan kepala dan memejamkan mata. Sampai saya mendengar kata SAH, saya merinding begitu juga langsung menitikkan air mata dan mengucapkan Alhamdulillah.. Kami telah resmi menjadi suami istri. Dan saya pun diberi kode untuk bersiap-siap keluar dari tempat saya menunggu untuk mendengarkan nasihat pernikahan dan juga untuk pertama kalinya, saya bertemu dengan imam dalam hidup saya, suami  yang sholeh yang sangat saya sayangi..

Bahagia dan haru sangat saya rasakan dalam prosesi ini. Semua doa yang saya panjatkan Alhamdulillah didengar dan diberikan jawabannya oleh Allah SWT. Bertemu suami untuk pertama kalinya, adalah perasaan yang tidak pernah bisa saya gambarkan kebahagiaannya. Saya melihat senyumnya, saya melihat ketulusannya, saya melihat betapa besar keinginannya untuk menjaga dan segera membangun rumah tangga ini agar menjadi keluarga yang Sakinah Mawaddah Wa Rahmah. Saya tatap matanya dan tak hentinya saya bersyukur karena sekarang telah menjadi pasangan suami istri. Ya, ini semua kenyataan. Saya, Devi Chairunnisa, telah resmi menikah dengan Agil Wicaksono.

Kemudian berlanjut kepada prosesi sungkeman. Disini saya benar-benar merasakan bahwa semua ini bisa terlaksana karena adanya restu dari orang tua kami. Tanpa orang tua, kami bukan siapa-siapa. Bapak dan Ibu kamilah yang telah mendidik kami sampai kami dewasa. Saya memohon izin dan doa kepada orang tua saya dan juga orang tua dari kak Dude agar ikhlas serta mendukung kami agar bisa kuat menjalani rumah tangga ini. Seandainya saya bisa mengutarakan semuanya, saya utarakan saat itu juga betapa besarnya rasa terima kasih dan hormat saya kepada orang tua dan betapa tingginya saya junjung restu orang tua untuk kelancaran semuanya.

Kami sangat berterima kasih atas restu yang diberikan untuk kami berdua. Terima kasih sudah mau bersabar untuk membesarkan kami selama ini, membantu kami untuk tumbuh menjadi anak yang sholeh/sholehah. Terima kasih untuk selalu mengingatkan betapa besarnya arti kehidupan ini. Seringkali perbuatan kami mungkin membuat hati terluka. Namun sampai kapanpun, kami akan selalu memikirkan orang tua kami. Terima kasih atas segala kasih sayang serta nasehat yang telah diberikan. Terima kasih.. karena telah menjadi orang tua kami. Kini kami telah resmi menjadi sepasang suami istri. Insya Allah, kami akan menjadi sahabat, suami dan istri yang bertanggung jawab, serta saling membimbing untuk membina rumah tangga yang Sakinah Mawaddah Wa Rahmah. Niat kami untuk beribadah bersama, melengkapi satu sama lain dan juga menjalankan sunnah Rasulullah SAW.

Kami memohon doa restu, agar ridho dan rahmat Allah SWT selalu menyertai kami dalam membangun rumah tangga yang bernafaskan islami. Aamiin...
Semua prosesi akad selesai, saya masih tidak menyangka bahwa sekarang semua sudah berubah. Bahwa sekarang saya seorang istri yang mempunyai tanggung jawab baru, seorang istri yang mempunyai suami yang insya Allah akan menjadi pemimpin yang kuat dan membimbing ke arah yang lebih baik.

Terima kasih kepada Allah SWT yang senantiasa menjawab doa kami serta atas ridho dan rahmatNya. Kami juga sungguh berterima kasih kepada seluruh kerabat yang hadir dan yang mendoakan. Sungguh suatu kebahagiaan untuk kami berdua bisa berbagi kesenangan dengan semuanya. Terima kasih untuk keluarga besar saya dan kaagil yang juga sudah banyak sekali membantu kami untuk membuat acara ini berjalan dengan lancar. Kemudian kami juga ingin mengucapkan terima kasih kepada sahabat-sahabat kami yang turut membantu.

Ya. Sekarang cerita kami akan dimulai.. Cerita dimana kami mengisi suatu buku kosong yang akan ditulis dengan warna warni kehidupan rumah tangga. Kehidupan yang saya yakini akan terjalin dengan indah.. Kehidupan dv dan kaagil..

Teruntuk suamiku yang sholeh..

aku sangat bersyukur karena kaagil telah menjadi bagian dari hidupku. Menjadi seseorang yang siap mendengarkan segala keluh kesahku, segala hal yang terjadi dalam hidupku, dan menjadi seseorang yang akan berjalan bersama dijalan yang benar, jalan yang akan membawa kita ke arah yang indah. Tidak pernah menyangka bahwa hidup aku akan selengkap ini dengan adanya kaagil.
Terima kasih telah menjadi seseorang yang membuat aku merasakan setiap harinya ketika bersama-sama tidak ingin berakhir..
Terima kasih telah menjadi pasangan hidupku, yang dimana menjadi tempat aku bersandar untuk tertawa, menangis, tersenyum, dan melakukan segala kegiatan bersama-sama..
Terima kasih karena telah menerimaku apa adanya dengan segala kekuranganku..
Aku akan belajar setiap harinya untuk menjadi pribadi yang lebih baik..
Terima kasih karena telah membimbingku selama ini dan bersedia untuk menjadi imam di dalam rumah tangga ini.

Langkah ini adalah langkah awal kita untuk menuju surga Allah SWT, karena niat kita untuk beribadah..
Banyak hal yang masih harus diperbaiki dan aku tidak bisa janjikan apa-apa..
Tapi insyaAllah aku akan menjadi istri yang setia untuk kakak, menjadi ibu yang bijak untuk anak-anak kita nanti ketika rezeki tersebut sudah diberikan oleh Allah SWT, dan menjadi makmum yang akan selalu mendoakan serta mengamini semua doa yang dipanjatkan..
Aamiin.
I love you, suamiku. Imamku. Kakaku.

Rabu, 01 April 2015

Karakter

Cinta memang banyak bentuknya mungkin tak semua bisa bersatu..

Awan,
Sosok yang yang selalu berada pada ketinggian. Karena ketinggiannya itu, ia hanya dapat melindungi menjaga dan memperhatikan saja. Hingga waktu yang menentukan. Ya. Kini keadaannya sangat jauh lebih baik meneduhkan. Bersamanya aku merasakan hujan, teduh dan terik.

Angin
Darinya aku belajar tentang rasa syukur, ikhlas dan tulus. Walaupun singkat dan sesaat kesejukan hembusannya mampu membangkitkan jati diri lebih baik. Terimaksih pernah berhembus ke arahku.

Udara
Dari setiap doa terjawab dengan satu kata "udara". Aku bagai mendapatkan paket lengkap. Jika ditelik lebih dalam, karakter ini adalah penggabungan dua karakter diatas. Bahkan sesungguhnya ialah yang selalu ku butuhkan dalam setiap hirup nafas. Tidak perlu banyak ditulis di sini kisah tentang udara, karena kisah ini akan panjang dan berakhir pada keabadian cinta.

Ini adalah bagian paling melegakan. Jika kamu telah sampai pada titik koma, kamu akan melukis indah kisahmu sendiri hingga diabuat penasaran dengan akhirnya. Atau bahkan kamu bersemangat mengejar untuk akhir yang kamu tentukan sendiri. Titik dua atau titik.

Jumat, 27 Maret 2015

Ice cream

Bagian tersulit dalam hidup adalah menjalani pilihanmu hingga akhir..

Terkadang ada rasa tidak percaya juga pada "kebetulan". Kebetulan yang entah disengaja ataupun memang sudah ini jalannya. Menikmati kebetulan seperti ini seperti melahap es krim tanpa jeda untuk menyuapnya, es krim yang harusnya dinikmati proses suap demi suap, tapi proses ini terabaikan begitu saja, aku bahkan hampir lupa filosofi es krim yang lembut, menenangkan dan seolah memberi pemanis untuk kehidupan yang getir, sempat merasa bingung antara penerimaan dan pertanyaan yang seolah terus berputar dikepala. Aku berdiskusi dengan diri sendiri mencoba mendapati keyakinan apa yang akan aku dapati.

Entah apa yang harus aku katakan lagi prihal ini. Harusnya aku berbahagia. Harusnya niat ini sebulat bola. Ya, seharusnya. Wajarnya semua keharusan itu ada.

Kamis, 19 Maret 2015

Mimpi putri

Aku yang mengejar mimpiku kemudian mimpi itu meminta untuk melangkah saja tidak perlu berlari. Hingga akhirnya ku tinggalkan mimpi.

Teman mimpi tanpa jemu. Awan.
Masih bolehkah aku menyebut nama karakter itu? Setelah Udara kini menggantikan posisinya. Yang harusnya setiap saat ku hirup. Melegakan. Menenangkan. Dekat.

Ya, bagaimanapun yang aku butuh adalah udara. Bukan awan ataupun angin. Angin pergi berlalu tanpa secercah hembusan. Sedangkan awan masih saja berada di tempatnya. Di atas. Melindungi. Memantau.

Dalam pertengahan perjalanan izinkan aku menuangkan segalanya.

Gaun putih indah membalut dirimu hingga kamu bagai sang putri dalam sehari, beriringan dengan lantunan lagu from this moment dan setiap orang mendoakanmu. Perayaan pernikahan hanyalah sebuah perayaan. Kebahagiaan berbalut kemewahan. Setiap seorang putri mendambakan itu.

Dengan mengucapkan bismillah, ya. Aku hanya ingin hidup sehidup hidupnya bersama udara yang kini kumiliki. Bagaimanapun nanti keadaannya itu persoalan nanti. Harapan dan mimpi hanya pembunuh bagiku. Ia menyiksa. Lakukan saja apa yang kini dapat dilakukan. Semaksimal mungkin.

Sesengguhnya, kamu hanyalah kamu. Kenikmatan kemewahan yang kamu rasakan kemarin hanya sebatas karena kamu sebagai anak. Ini jadinya, saat status anak lepas dr dirimu. Apa yg kamu miliki? Berapa harta yg kamu punya? Nol. Siapkah kamu melepaskan segala kekotaanmu untuk menjadi sederhana. Desa. Atau bahkkan sengsara?

Sabtu, 07 Maret 2015

Keakuanku

Singkat. Sederhana.

Perkataanmu mencerminkan jati dirimu. Jaga lisanmu karena lebih baik pecah di perut daripada pecah di mulut. Jangan sampai angin membawa berita dan tembok mendengarnya.

Aku tidak pandai berkisah, tidak lihay bersembunyi dan tidak ingin berdusta. Nilailah sepuasmu, karena kamu bukan hakin atau jaksa atau bahkan juri. Kamu hanyalah kamu. Penikmat cerita. Jika ingin kamu ketahui dalamnya air jangan hanya kamu lihat lihat dari tepian. Terjunlah kedalamnya. Rasakan setiap arusnya yang mengrengkuh dirimu.

Kenali kekuatan waktu, dalami pengetahuan hati, selami kekalnya doa.

Minggu, 01 Maret 2015

Sandiwara

Pintar sekali dirimu membolak balikan peranmu. Sayangnya ini hidup! Bukan dalam sebuah kisah cerita sinema. Kamu bak layaknya seorang aktor terbaik !

Manis manis ucapanmu hanya ada dipangkal penilaian orang yang baru mengenalmu sekejap. Buah cintamu dan wanita yang dulu kamu ucapkan janji suci kepadanya kini dengan sesukamu disulam - dirobek. Dirobek - disulam hatinya. Begitu seterusnya. Untuk apa kepandaian sandiwaramu itu? Apa tujuanmu!

Apakah hatimu sendiri telah hilang termakan harimau? Hingga mereka kamu jadikan tempat melampiaskan segala kekecewaanmu. Atau seolah kamu merasa dendam / dengki pada mereka? Seakan mereka tidak kamu perbolehkan untuk tersenyum sedikitpun. Peranmu antagonis di dalam protagonis di luar. Apa salah mereka?

Dulu kamu yang begitu menginginkan keberadaan mereka disisimu. Kini kamu campakan mereka. Tidak sekalian saja kamu tinggalkan mereka. Itu akan membuat mereka jauh lebih bahagia !
Mereka mencoba lari jauh darimu, kamu kejar lalu kamu pasung mereka dalam sandiwaramu. Lalu apa peran mereka?
Mereka manusia yang hidup bukan hanya hidup dalam sandiwaramu. Sadarlah !

Kamis, 26 Februari 2015

FTV (nyata)

Cerita happy ending yang prosesnya ga masuk akal  hanya ada di FTV, katanya..

Kita luput pada satu hal bahwa dalam hidup ini juga ada produser dan sutradaranya langsung yaitu Allah dan takdir. Cerita mana yang dapat mengalahkan keseruan hidupmu sendiri? sebuah ketidakjelasan yang kamu rasakan akan dijawab dengan ketidakpastian karena sesungguhnya kamu hanya dapat berperan sebagai dirimu sendiri tanpa kamu tau persis bagaimana akhir ceritanya. Ketidakpastian yang kamu rasakan itu akan terbuka oleh iman, bahwa segalanya memang sudah ada yang mengaturnya. Dan sebuah ketidakjelasan akan membuat diri menuntut berusaha mencari sebuah jawaban, itulah cara kerja sederhana kemampuan sebuah jiwa setiap insan manusia.

Dia, sosok yang biasa saja
Dia, sosok yang sederhana
Dia, sosok yang keberadaannya terbentang puluhribuan km
Dia, sosok yang hatinya sejuk
Dia, sosok yang positif
Dia, sosok yang belum lama saya kenal
Dan dia...

Hmmm
Saya lahir dan keturunan asli sebuah kota yang memiliki julukan metropolitan. Ya, kota ini hebat. Sebagai ibu kota negara berhasil membuat mata pikiran penduduknya berpusat padanya.
Dulu katenye, kalo elu pengen sukses pan tibang ke sini aje. Ape aje ade.
Lah pan karang jadinye padet ni kote.
Hahaha intermezonye kelamaan ye.
Intinya , setiap orang yang sudah di kota ini apa lagi sudah lama tinggal mayoritas dari mereka pasti berpandangan ... (isi sendiri)
Apa lagi anak mudanya, up to date. Bisa kebayangkan gimana? Dari pola hidupnya, seleranya dll. Itu pada umumnya, jauh dari itu masih ada beberapa dari warga jakarta atau anak kota yang berpandangan, mungkin seperti saya.
Sudah merasa cukup menikmati kota ini, kecukupan itu wajarnya tidak boleh mencapai berlebihan. Saya butuh sesuatu yang alami, hening dan kebahagiaan yang sesungguhnya.
Bersamanya, saya akan membantu menyalakan pelita pendidikan disebuah daerah yang jauh dari gemerlap cahaya kota Jakarta.
Saya sangat bersemangat melangkah maju ke episode cerita hidup saya sendiri. Bagaimana denganmu?

Rabu, 25 Februari 2015

Keakuan

Menjadi anak kesayangan keduaorangtua tidak selalu selamanya membahagiakan..

Entah ini disebut sebagai apa. Ungkapan hati terdalam atau apapun itu, whatever ! Jiwaku terpasung ragaku dikurung. Dalam palung hati terdalam, aku mempunyai dua cita -cita yaitu sukses menjadi diriku seutuhnya aku dan menjadi anak yang berbakti untuk keduaorangtuaku. Hal itu yang menyebabkan aku terkatung katung selama 21 tahun ini. Kenapa?

Aku menulis ini atau karena aku sedang kesal? Jadi terkesan aku merasa kurang bersyukur dengan yang selama ini sudah ku nikmati.

Memang,.
Selama ini mereka mencukupi segala keinginan dan kebutuhanku.
Tapi semua keinginan dan kebutuhan yang mereka maksudkan keinginan dan kebutuhan mereka ! Bukan seutuhnya untuk jiwaku.
Aku butuh bicara, aku berhak memilih..
Kekhawatiran mereka kini hampir membunuhku. Aku telah hampir menunaikan cita - citaku menjadi anak yang berbakti, berikan aku sedetik momentum untuk cita - citaku yang satunya lagi. Please.
Percayakan aku dengan keakuan ku ini tetap dapat menjadi anakmu.
Aku ingin hidup

Bermimpi

Tidur jika tertidur bangun jika terbangun..

Itu bukanlahlah sebuah mantra tetapi sebuah konsep yang tertanam dalam jiwaku. Hmm, hasilnya memuaskan ! Aku menjadi seorang yang tidak bisa tidur jika berencana tidur dan aku sulit bangun jika memang aku belum terbangun sepenuhnya. Bisa dibayangkan bagaimana pola tidurku. Sering kali aku tertidur tanpa sadar yang sebelumnya aku tidak sedikitpun merasakan tanda ngantuk.
Semua itu bermula karena aku tidak suka mimpi atau bermimpi. Bagiku mempercayai mimpi sama artinya dengan mempercayai kebohongan. Yakini saja apa yang sedang kamu lihat dan tengah kamu jalani. Itu cukup. Tidak perlu punya ekspektasi yang berlebihan karena segala sesuatu yang berlebihan akan membuatmu jatuh lebih sakit, meskipuun perlahan. Saat kita membiarkan diri terjebak dalam mimpi yang obsesif bahkan ilusif, maka kita akan berkubang dalam kesedihan saat berada dekat pada kejatuhan.

Namun saat ini aku bertemu dengan sebuah jawaban bernamakan 'proses'. Ternyata pradugaku soal mimpi salah. Justru karena itu kita menjadi lebih kuat. Kuat untuk menata hidup dan menapakinya, kuat untuk membangun komitmen dalam kesetiaan dan memvisualisasikannya pada ikatan pernikahan dan berkeluarga hingga nantinya kuat untuk bertahan. Maka, mulailah aku belajar bermimpi tapi bersamamu tak perlu lagi bermimpi.

ini

Ini adalah tempat dimana aku dapat bernafas tanpa sesak, menghirup alaminya okesigen tanpa unsur lainnya. Ya, aku hanya perlu membutuhkannya. Menulis bagiku adalah seperti bernafas. Sedetik sepuluh detik mungkin aku masih mampu bertahan. Dapat dibayangkan jika aku semenit tidak menulis? Dan bagiku menulis, bukanlah persoalan untuk menghasilkan tulisan yang indah bagai pujangga sastra. Menulis adalah sejarah yang hidup kembali dalam setiap nafas saat dibacanya lagi. Esok nanti atau lusa.
Pernahkah kamu tertawa saat melihat foto SDmu?
Begitu juga dalam tulisan. Ia punya gambarannya sendiri di sudut pikir yang membacanya.
Mungkin saja dulu kamu menulisnya saat sedang tersedu sedu, saat lendir yang keluar dari hidungmu berlomba dengan air mata menuju pangkal wajahmu. Dan sekarang kamu terlihat begitu kesal, tertawa atau merasa lega telah melaluinya.

Disinilah,
Ditempat ini aku hidup dengan keakuan ku.
Ini adalah perjalananku menuju titik.
Ini hanya ada tentang aku.
Aku sendiri.

Selasa, 24 Februari 2015

Manusia

Di dunia orang tua itu wakil Tuhan, mereka ikut ambil bagian menuliskan takdir anaknya..

Terkadang semua berjalan sesuai momentumnya entah itu sesuai perencanaannya atau bahkan mengalir begitu saja. Hingga akhirnya apa yang saat ini baik morfologi atau karakter diri seorang anak terbentuk adalah hasil dari buah cinta orangtuanya. Tentu saja banyak dari setiap orangtua mendambakan anaknya bersama sesorang yang memang menurutnya layak. Karena sesungguhnya orangtua hanyalah tempat Allah menitipkan ciptaannya yang sempurna yang bernamakan manusia. Yang dimana manusia itu juga berhak menentukan pilihannya untuk kehidupannya kedepan. Sebuah pilihan membagi yang terbaik dengan yang baik - membagi yang baik dengan yang kurang baik. Namun setiap pilihan selalu mempunyai kadar baik buruknya yang menjadi dasar pertimbangan keputusan. Semoga kamu dapat menanggung dan menyelesaikan pilihanmu dengan bahagia :)